Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya – Halo pencinta sejarah Indonesia, oke kali ini artikel dosenpintar.com akan berbagi artikel mengenai kerajaan merah emas, yaitu Kerajaan Sriwijaya disini kita akan mengulas sejarah, struktur dan peninggalan sejarah yang ada. Buat kalian yang penasaran langsung saja simak artikel dibawah ini.

Kerajaan Sriwijaya
 

Lokasi Kerajaan Sriwijaya

Menurut Prasasti Kedukan Bukit,  bertarikh 605 Saka (683 M), Kerajaan Sriwijaya diyakini pertama kali berdiri di sekitar kota Palembang, tepatnya di tepi Sungai Musi. Teori Palembang sebagian menyebut tempat Kerajaan Sriwijaya pertama kali diajukan oleh Coedes didukung oleh Pierre-Yves Manguin. Selain di Palembang, tempat lain juga disebut seperti Muaro Jambi (Sungai Batanghari di Jambi) dan Muara Takus (pertemuan Sungai Kampar Kanan Kiri di Riau) juga disebut sebagai ibu kota Kerajaan Sriwijaya.

Terjadi observasi pada tahun 1993 yang menjadi dasar Pierre-Yves Manguin menyampaikan bahwa Kerajaan Sriwijaya berlokasi di Sungai Musi  diantara Sabokingking dan Bukit Seguntang (Sumatra Selatan sekarang), Sekitar daerah Karanganyar dan sekarang menjadi Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya. Pendapat ini berdasarkan foto udara tahun 1984 yang menunjukkan situs Karanganyar  berbentuk bangunan air, berupa jaringan kanal, parit, kolam serta ada juga pulau buatan yang tersusun dengan rapi dan dipastikan situs ini merupakan karya manusia.

Pendapat Soekmono bahwa pusat Sriwijaya berada di kawasan ilir Batang Hari, diantara Muara Sabak sampai dengan  Muara Tembesi (Jambi sekarang). Pendapat Moens, yang sebelumnya juga telah menyatakan bahwa letak pusat kerajaan Sriwijaya berada dikawasan Candi Muara Takus (Riau sekarang). Dari Prasasti Tanjore, Ibu kota Sriwijaya di kota Kadaram (Kedah sekarang).

Namun, pada tahun 2013, penelitian arkeologi oleh Universitas Indonesia menemukan beberapa situs keagamaan dan beberapa tempat tinggal di Muaro Jambi. Ini menunjukkan bahwa pusat dari awal Kerajaan Sriwijaya terletak di Kabupaten Muaro Jambi,  pada tepi sungai Batang Hari, dan bukan ditepi Sungai Musi. Situs arkeologi ini mencakup 8 candi yang didapat pada saat penggalian, terletak dikawasan dengan luas sekitar 12 kilometer persegi dan membentang sekitar 7,5 kilometer di Sungai Batang Hari, dan 80 menapo (gundukan) reruntuhan candi yang masih belum dipugar. Situs Muaro Jambi juga bercorak Buddha Mahayana-Wajrayana. Menunjukkan bahwa situs ini adalah pusat belajar Buddhis, dikaitkan dengan salah satu tokoh cendekiawan Buddhis terkenal yaitu Suvarnadvipi Dharmakirti dari abad 10.

Baca Juga :  Rumah Adat Papua

Ada juga pendapat lain yang menyatakan nama kota Chaiya itu berasal dari kata “Cahaya” yang dalam bahasa Melayu. Ada pula yang percaya nama Chaiya berasal dari Sri Wijaya yang menyatakan kota ini merupakan pusat Sriwijaya. Teori ini didukung oleh sejarahwan dari Thailand,  secara umum teori ini umumnya dianggap kurang kuat.

Daerah kekuasaan kerajaan sriwijaya berdasarkan dari peta yang membentang  Semenanjung Malaya, Kamboja, Thailand Selatan, Sumatera, kemungkinan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Berdasarkan Prasasti Kedukan Bukit, bertarikh pada masa 605 Saka (683 M), Kerajaan Sriwijaya pertama didirikan di Palembang, tepatnya  di tepian Sungai Musi.

Baca Juga : Tarian Daerah Beserta Asal

Bukti keberadaan kerajaan Sriwijaya berasal dari abad 7 ialah seorang pendeta dar Tiongkok, Dinasti Tang dan I Tsing, yang menulis bahwa mereka berkunjung ke Kerajaan Sriwijaya pada  tahun 671 dan mereka tinggal selama 6 bulan. Kemudian ada prasasti yang paling tua mengenai Kerajaan Sriwijaya  pada abad 7, berupa prasasti Kedukan Bukit di Palembang, bertarikh pada 682.

 

Sejarah dan Agama Kerajaan Sriwijaya

Pertama Kerajaan Sriwijaya ini merupakan kerajaan pusat penyebaran agama Buddha dimulai pada abad 8 sampai dengan abad 12. Kerajaan Sriwijaya juga terkenal dengan pemasaran lautnya. Pernah disebut kerajaan ini merupakan satu satunya kerajaan yang mampu menguasai selat Malaka, hangga memiliki hubungan kerja sama yang baik dengan India, China dan Kepulauan Malaysia yang pada masanya dikenal sebagai Negara yang berpengaruh di dunia perdagangan. Raja pertama Kerajaan Sriwijaya bernama Sri Jayanaga, tetapi kerajaan ini memiliki masa kejayaan pada saat pemerintahan Balaputra Dewa.

Dalam sejarah bahasa Sansekerta Sri memiliki arti “bercahaya/gemilang” sedangkan Wijaya berarti “kemenangan/kejayaan”. Ketika digabungkan maka Sriwijaya artinya adalah sebuah kemenangan yang gemilang.

Kerajaan Sriwijaya terkenal dengan agama yang dianut, Agama Buddha yang dianut ialah Buddha Mahayana, Buddha Vajrayana, Buddha Hinayana dan juga Hindu. Ada masyarakat yang menganut agama Hindu namun pengaruhnya tidak besar.

Baca Juga :  Penemu Radio : Guglielmo Marconi

Bahasa yang digunakan oleh masyarakat Sriwijaya adalah Melayu Kuno. Untuk kegiatan jual beli mata uang yang digunakan adalah emas atau perak. Menganut sistem pemerintahan monarki dan berjalan amat sangat baik.

Lagi, Raja-Raja yang memimpin Kerajaan Sriwijaya sangat lah cerdas dan berkepemimpinan tinggi hingga dapat mencapai kancah persaingan yang luas di  Asia Tenggara. Keberhasilan kegiatan perdagangan serta memiliki wilayah kekuasaan yang luas ini tentu saja tidak lepas dari raja hebat yang memimpin dan memerintah Kerajaan Sriwijaya ini.
 

Sumber Sejarah Kerajaan Sriwijaya

Sumber sejarah dari dalam negeri

Sumber sejarah dari dalam negeri ini berupa peninggalan Prasasti yang menggunakan bahasa Melayu Kuno serta huruf Pallawa, dan juga telah memakai penulisan angka pada tahun Saka.

  1. Prasasti Kedukan Bukit
    b. Prasasti Talang Tuo
    c. Prasasti Telaga Batu

Sumber sejarah dari luar negeri

  1. Prasasti Ligor
  2. Prasasti Nalanda

 

Struktur Pemerintahan Sriwijaya

Struktur pemerintahan Sriwijaya, Negara kesatuan dibentuk melalui dimensi suatu struktur yang memiliki otoritas dibidang politik Kerajaan Sriwijaya, dari beberapa prasasti banyak menuliskan informasi mengenai tentang kadātuan Kerajaan Sriwijaya, ada vanua, dan ada juga samaryyāda, mandala serta bhūmi.

Kadātuan merupakan wilayah datu, (tanah rumah) yang menjadi tempat istri haji, serta menjadi tempat untuk menyimpan emas serta menyimpan hasil dari cukai (drawy) yang sangat harus dijaga.

Vanua adalah pengeliling kedatuan, dianggap sebagai wilayah/kawasan kota Sriwijaya yang terdapat vihara didalamnya untuk beribadah masyarakat.

Sedangkan Samaryyāda adalah kawasan yang berbatasan langsung dengan vanua, terhubung dengan adanya jalan khusus (samaryyāda-patha) bertujuan untuk menjangkau wilayah pedalaman.

Sedangkan mandala adalah kawasan otonom dari bhūmi Sriwijaya berada dibawah pengaruh dari kekuasaan kadātuan Sriwijaya sendiri.

Dapunta Hyang adalah sebutuan bagi Pemimpin Kerajaan Sriwijaya atau disebeut Maharaja, berurutan lingkaran para raja dimulai dari seorang yuvarāja atau putra mahkota, selanjutnya ada pratiyuvarāja artinya putra mahkota kedua dan terakhirada rājakumāra merupakan seorang pewaris berikutnya.
 

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Prasasti Kota Kapur

Peninggalan prasasti ini ada di Pulau Bangka menggunakan bahasa melayu kuno dan aksara Pallawa. Prasasti ini pertama kali ditemukan pada 686 M. Sejarahnya, isi prasasti ini tentang harapan dari rakyat kerajaan Sriwijaya.

Baca Juga :  Pengertian Kerja Rodi

Prasasti Kedukan Bukit

Prasasti ini terdapat di kota Palembang, Prasasti ini ditemukan sekitar 683 M dan menceritakan Dapunta Hyang (Maharaja) yang telah berhasil untuk memakmurkan rakyat.

Prasasti Telaga Batu

Prasasti yang satu ini berada di kolam Telaga Biru, Palembang. Prasasti ini berisi menceritakan kutukan untuk mereka yang telah berbuat jahat di Kerajaan Sriwijaya.

Prasasti Talang Tuwo

Selanjutnya prasati talang tuwo ini merupakan penemuan prasasti di kaki Bukit Seguntang Mahameru di sekitar tepi bagian utara Sungai Musi. Isinya berupa kumpulan doa-doa  yang didedikasikan untuk menunjukkan sangat berkembang agama Buddha di Kerajaan Sriwijaya pada masanya.

Prasasti Ligor

Prasasti Ligor merupakan prasati peninggalan kerjaan Sriwijaya di Luar Negeri. Lokasi ditemukan prasasti Ligor ini adalah di daerah Nakhon Si Thammarat, Thailand dibagian Selatan. Prasasti Ligor ini ditemukan sekitar tahun 775 M. Prasasti ini diketahui memiliki dua sisi bagian, yang dinamai bagian sisi A dan bagian sisi B.

Prasasti Palas Pasemah

Prasasti ini Palas Pasemah ditemukan di daerah Palas Pasemah, tepatnya di  Lampung Selatan. Peninggalan prasasti ini tertulis menggunakan bahasa Melayu Kuno dan juga aksara Pallawa yang disusun menjadi 13 baris kalimat. Prasasti ini dari abad 7 serta berisikan mengenai tentang kutukan-kutukan bagi orang yang tidak mau tunduk pada kekuasaan kerajaan Sriwijaya.

Prasasti Karang Birahi

Prasasti ini ditemukan didaerah Karang Birahi, Jambi. Prasasti ini sendiri ada sejak masa 868 Masehi. Berisi doa kepada dewa supaya memberi ganjaran untuk orang jahat.

Demikian sejarah dari Kerajaan Sriwijaya, Semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan kalian semua. Jangan lupa berbagi ilmu ya sobat. Tunggu artikel sejarah lainnya ya.

Baca Juga :

 

(Visited 26 times, 1 visits today)